18 July 2015

Pengertian Model Pembelajaran Bermakna (Meaningfull Learning) Menurut Para Ahli

Pengertian Model Pembelajaran Bermakna (Meaningfull Learning) Menurut Para Ahli. Model pembelajaran adalah sebuah metodologi atau sarana atau alat yang digunakan oleh guru secara profesional dengan menjalankan fungsi-fungsinya sesuai dengan metodologi tersebut.

Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik (dalam hal menentukan metode mengajar) untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar, demi mencapai hasil belajar yang memuaskan (Isjoni 2009, 11).
Baca juga: Kumpulan Teori dan Artikel Model Pembelajaran
Pengertian Model Pembelajaran Bermakna (Meaningfull Learning) Menurut Para Ahli
Model pembelajaran bermakna (meaningfull learning)
Model pembelajaran bermakna (Meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dlam struktur kognitif seseorang (Anonim, 2008).

Belajar bermakna merujuk pada konsep bahwa belajar pengetahuan (sebuah fakta) sepenuhnya dipahami oleh individu dan bahwa individu mengetahui bagaimana fakta yang spesifik berkaitan dengan fakta-fakta yang tersimpan lain atau tersimpan dalam otak (Anonim, 2007).

Pembelajaran bermakna sebagai hasil dari peristiwa mengajar yang ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk mendapatkan atau menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi pembelajaran bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki oleh peserta didik dan membantu memadukannya secara harmonis dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan (Anonim, 2008).

Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran dimana  informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang dalam proses pembelajaran.

Prof. Muchlas Samani (2007) mengemukakan bahwa apapun metode pembelajarannya, maka harus bermakna (meaningfull learning). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dangeneralisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.

Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang menyenangkan, yang memiliki keunggulan dan meraup segenap informasi secara utuh sehingga konsekuensi akhirnya adalah meningkatkan kemampuan siswa yang akan berdampak pada pencapaian hasil belajar yang maksimal.

Pembelajaran dapat menjadi bermakna jika guru sebagai profesional dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi, artinya dapat mengadaptasikan pembelajaran dengan kemajuan zaman. Untuk beradapatsi tersebut perlu dilakukan sebuah perubahan yang bertahap. Tahapan itu adalah:  know, believe, attitude, behavior, habit, dan culture.

1. Know (Tahu)

Semua stimulus dari akibat interaksi siswa dengan lingkungan akan menjadi bahan dasar untuk mengetahui sesuatu, dan selanjutnya akan berfungsi untuk memicu munculnya perilaku.

2. Believe (keyakinan)

Setelah siswa mengetahui sesuatu yang baru, yang sudah disaring oleh keyakinannya. Keyakinan yang bersumber dari nilai-nilai yang terbentuk di lingkungan. Jika hal itu bermakna, maka siswa pasti menerimanya.

3. Attitude (Perilaku)

Setelah siswa mengetahui dan meyakini sesuatu maka sinergi antara apa yang mereka ketahui dan apa yang diyakini pada akhirnya akan membuahkan perilaku.

4. Behavior (kepribadian)

Perilaku yang ditampilkan adalah akumulasi dati tahu (know), keyakinan (believe) dan perilaku (attitude). Ketiga perpaduan tersebut seringkali disebut sebagai sebuah “software” sedangkan kepribadian (behavior) adalah “hardware-nya”. Jika seorang guru dalam memahami pembelajaran bermakna tidak melalui proses know, believe, hingga attitude, maka bekerjanya akan setangah hati. Sehingga siswa tidak dapat menerima pelajaran dengan baik yang juga akan berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang maksimal.

5. Habit (kebiasaan)

Perilaku yang didemostrasikan secara konsisten adalah kebiasaan (habit) merupakan bentuk kristalisasi perilaku. Jika hal ini terbentuk, maka pembelajaran bermakna akan menjadi menu utama guru dalam hal pembelajaran. Pembelajaran bermakna merupakan proses belajar yang tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang telah dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi kegiatan belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki peserta didik dan membantu memadukannnya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkannya.

6. Culture (budaya)

Budaya adalah cerminan dari nilai-nilai yang diketahui dan diyakini. Budaya merupakan pemantapan dari kebiasaan (habit). Pada tahapan inilah perilaku seseorang sudah melekat dan sulit untuk diubah kembali, meskipun dengan nilai-nilai yang baru.

Belajar bermakna terjadi jika siswa mengaitkan atau menghubungkan informasi baru dengan struktur kognitifnya. Nasution (1982, 158) Belajar bermakna memiliki kondisi-kondisi yaitu sebagai berikut:
  1. Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan-bahan baru dengan bahan-bahan lama.
  2. Lebih dahulu memberikan ide yang paling umum kemudian hal-hal yang lebih terperinci
  3. Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan bahan lama
  4. Mengusahan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnyasebelum ide yang baru disajikan.
Menurut Nana (2005, 189)  dalam  pembelajaran bermakna terdapat syarat-syarat yang dapat menunjang terciptanya pembelajaran bermakna yaitu:
  1. Bahan yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif secara substansial dan dengan beraturan.
  2. Siswa memiliki konsep yang sesuai dengan bahan yang akan dihubungkan.
  3. Siswa harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsep tersebut dengan struktur kognitifnya secara substansial dan beraturan pula.
Ausubel (Dahar 1989, 141) menggemukakan tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu:
  1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.
  2. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.
  3. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.

Pengertian Model Pembelajaran Bermakna (Meaningfull Learning) Menurut Para Ahli Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Vanya Dika

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih