16 December 2015

Asas-Asas dalam CTL Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Menurut Para Ahli

Asas-Asas dalam CTL Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Menurut Para Ahli. Menurut Sanjaya (2006: 264-268) CTL sebagai suatu pendekatan mempunyai tujuh asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL, yaitu: a) konstruktivisme; b) inkuiri; c) bertanya; d) masyrakat belajar; e) pemodelan; f) refleksi; dan g) penilaian otentik.

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pengetahuan memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterprestasi objek tersebut. Dengan demikian pengetahuan tidak bersifat statis tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengkonstruksikannya. Pembelajaran pada CTL pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkonstruksikan pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Oleh karena itu siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
Asas-Asas dalam CTL Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Menurut Para Ahli
Asas-Asas dalam CTL Pembelajaran Kontekstual
Inkuiri adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah hasil dari mengingat namun dari proses menemukan sendiri. Dalam proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan sebuah materi yang harus dihafal, tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminnya. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh, baik intelektual, mental, emosional, maupun pribadinya. Penerapan asas ini dalam proses pembelajaran CTL, dimulai dari kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Jika masalah telah dipahami selanjutnya siswa dapat megajukan jawaban sementara dengan rumusan masalah yang diajukan. Dari hal tersebut siswa akan menuntun siswa elakukan observasi dan mengumpulkan data serta merumuskan kesimpulan. Melalui proses berpikir yang sistematis seperti di atas, diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis, yang kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.

Bertanya (Questioning) adalah sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan materi begitu saja, akan tetapi memancing siswa agar dapat menemukan sendiri. Melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. Suatu pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk menggali informasi. Informasi tersebut tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran dan membangkitkan motivasi untuk belajar. Tidak hanya itu, tetapi juga merangsang keingintahuan terhadap sesuatu, memfokuskan pada sesuatu yang diinginkan, dan membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.

Masyarakat belajar (learning community) adalah pengetahuan dan pemahaman anak banyak yang ditopang oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan batuan orang lain. Kerjasama saling memberi dan menerima dapat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Kerjasama itu dapat dilakukan dengan berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari sharing dengan oarang lain, antar kelompok.

Pemodelan (modeling) adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara memainkan alat musik. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Misalnya, siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dianggap sebagai model. Melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.

Refleksi (reflection) adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Dengan adanya refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan  yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya. Setiap akhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.

Penilaian otentik (authentic assesment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian yang otentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung, tekanannya lebih diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

Asas-Asas dalam CTL Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Menurut Para Ahli Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Vanya Dika

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih