16 December 2015

Hakikat Pendidikan Agama Buddha Menurut Para Ahli

Hakikat Pendidikan Agama Buddha Menurut Para Ahli. Menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang pada pasal 3 menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sera bertanggung jawab (Samani dan Hariyanto, 2012: 26).

Pendidikan terkait dengan nilai-nilai, mendidik berarti memberikan, menanamkan, dan menumbuhkan nila-nilai pada siswa. Pendidikan berfungsi membantu siswa dalam penegembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya kearah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Proses pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan diri siswa  (Sukmadinata, 2001: 3).

Hakikat Pendidikan Agama Buddha Menurut Para Ahli
Hakikat Pendidikan Agama Buddha
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, mengemukakan bahwa Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak (karakter) mulia.

Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan Buddha bagian pertama pasal 1 ayat 1, menegaskan bahwa Pendidikan Agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

Ki Hajar Dewantara memberi definisi pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya pendidikan menuntun segala kekuatan pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Kadir, 2012: 62). Pendidikan menuntun anak-anak agar menjadi manusia dan masyarakat yang mencapai keselamatan serta kebahagiaan dalam hidupnya. Dengan pendidikan seseorang anak mendapatkan bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain. Pendidikan menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pengetahuan yang luas untuk mencapai cita-cita yang diharapkan, serta mampu beradaptasi secara tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri yang memotivasi diri untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Pendidikan Agama Buddha bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia yang utuh, berketuhanan, susila, dan bijaksana, yaitu manusia yang bisa menghayati hakikat kehidupan yang penuh dengan tantangan dan ketidakpuasan. Dalam pendidikan agama Buddha, pendidikan diartikan suatu hal yang dilatih untuk menghasilkan kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan sesuai dengan ajaran agama Buddha. Dalam melaksanakan pendidikan pasti memiliki tujuan, baik tujuan dalam menjalankan hidup maupun tujuan dari pendidikan agama Buddha itu sendiri.

Pendidikan berasal dari istilah latihan (sikkha), tersirat bahwa pendidikan merupakan proses belajar, latihan pelajaran, mempelajari, mengembangkan, dan pencapaian penerangan. Pada istilah ini termasuk juga disiplin moral (silā), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (pañña) yang dilaksanakan untuk mengikis keserakahan, kebencian ,dan kebodohan batin sehingga dapat mencapai nibbāna (Morris, 1999: 231). Disiplin moral dilakukan terus menerus dengan perhatian pendidikan sebagai sifat fungsional dari latihan, praktik, dan kemajuan setahap demi setahap.

Selama empat puluh lima tahun Sang Buddha membabarkan jalan pembebasan. Sang Buddha dikenal sebagi guru para dewa dan manusia “satthā devamanussānaṁ” (Dhammadhiro, 2005: 27) dan pembimbing manusia. Disiplin moral (silā), meditasi (samādhi), kebijaksanaan (pañña) yang dicapai berdasarkan realisasi keadaan sebenarnya dari kehidupan yang merupakan dasar dan jalan yang diajarkan Buddha. Hal ini menunjukkan Sang Buddha menganjurkan agar manusia belajar seumur hidup, meditasi, dan mengendalikan pikiran. Semuanya adalah latihan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Landasan filosofi pendidikan agama Buddha dapat dilihat rumusan empat kebenaran mulia (cattāri ariya saccāni), yaitu mengidentifikasi adanya dukkha, sebab dukkha, terhentinya dukkha, dan jalan menuju terhentinya dukkha (Kemendikbud, 2014: 109). Dari rumusan ini Sang Buddha memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya mengatasi masalah secara sistematis. Mengatasi masalah secara sistematis menunjukkan ada suatu nilai pendidikan yaitu dari mengidentifikasi adanya penderitaan, asal penderitaan, terhentinya penderitaan dapat dihasilkan pengalaman mengatasi penderitaan. Pengalaman mengatasi penderitaan ini, bisa diartikan sebagai ilmu atau pengalaman baru dari proses pembelajaran mengatasi penderitaan.

Pendidikan agama Buddha pada dasarnya bersifat terbuka dan tidak ada yang disembunyikan. Terbuka yang dimaksud seperti penjelasan dhamma atau ajaran Buddha mengudang untuk dibuktikan yang diistilahkan ehipasiko,  artinya datang, lihat, dan buktikan (Hardy, 1994: 285). Penjelasan itu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada pengakajian, pemahaman yang rasional, dan pengalaman empiris dari semua ajaran Buddha.

Pendidikan agama Buddha juga memiliki tujuan untuk mencerdaskan dan membentuk siswa menjadi pribadi yang bermoral sesuai dengan norma-norma yang berlaku baik dari segi perbuatan, ucapan, dan pikiran. Dalam Dhammapada BAB XXI Pakinnaka, syair 281 (Norman, 2004: 42) Sang Buddha bersabda “...Guarding one’s speech, well restrained in mind and body, one should not do evil. Purifying these paths of action, one would attain the path taught by the sages...”. Artinya hendaklah ia menjaga ucapan, dan mengendalikan pikiran dengan baik serta tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani. Hendaklah ia memurnikan tiga saluran perbuatan ini, memenangkan jalan yang telah dibabarkan oleh para suci.

Berdasarkan sabda Buddha di atas disampaikan bahwa untuk mencapai jalan pembebasan, seseorang harus menjaga ucapan, mengendalikan pikiran dari hal-hal buruk, dan tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani. Oleh karena itu, sebagai umat Buddha sangat penting untuk mempelajari ajaran Sang Buddha melalui pendidikan agama Buddha di sekolah agar bisa mengenal dan memahami ajaran Sang Buddha. Dengan demikian dapat mengerti mana yang harus dilakukan dan yang tidak dilakukan baik melalui ucapan, pikiran, dan badan jasmani.

Pendidikan Agama Buddha juga dimaksudkan untuk membentuk siswa menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan meningkatkan potensi spiritual. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan serta penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama Buddha sangat penting karena selain memberikan pengtahuan tentang agama Buddha kepada siswa secara teoritis, juga sebagai sarana untuk menanamkan sifat-sifat baik pada diri siswa melalui pelajaran tentang moralitas Buddhis yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hakikat Pendidikan Agama Buddha Menurut Para Ahli Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Vanya Dika

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih