16 December 2015

Manfaat Puja Bakti dalam Agama Buddha

Manfaat Puja Bakti dalam Agama Buddha. Melaksanakan puja bakti dapat mengikis kesombongan, hal ini dirasakan ketika melakukan namaskara (berlutut dan bersujud) di hadapan Buddha Rupang. Namaskara merupakan sikap rendah hati dalam melakukan penghormatan dan rasa terima kasih atas jasa luhur Sang Buddha. Seseorang bersujud dengan merenungkan kembali keagungan Buddha atas belas kasih dan tuntunan DhammaNya. Dalam puja bakti, paling dominan dilakukan adalah membaca  syair-syair dalam Paritta. Dalam Paritta terdapat syair sutta, gatha, paritta, dan anussati yang berlandaskan cinta kasih dan kasih sayang bagi semua makhluk hidup. Uncaran-uncaran Paritta dapat mengondisikan konsentrasi dalam pikiran, sehingga muncul kedamaian.
Manfaat Puja Bakti dalam Agama Buddha
Manfaat Puja Bakti dalam Agama Buddha
Dalam rangkaian upacara puja bakti terdapat meditasi, misalnya dengan objek Metta Bhavana seseorang dapat mengembangkan cinta kasih terhadap semua makhluk. Dengan ketenangan meditasi, empat kediaman luhur (Metta, Karuna, Mudita, dan Upekkha) berkembang, mudah memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk, peka terhadap penderitaan makhluk lain yang membutuhkan pertolongan, merasakan kebahagiaan yang dialami orang lain, serta dapat menerima fenomena hidup sebagaimana adanya. Di dalam Dhammapada, Citta Vagga III: 39 di katakan bahwa: 
There is no fear for one whose thought is untroubled (by faults), whose thought is unagitated, who is freed from good and evil, who is awake (Norman, 2004: 6)”. 
“Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian, telah mengatasi keadaan baik dan buruk, maka seorang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan”.
Puja bakti lebih lengkap apabila di isi dengan ceramah atau diskusi Dhamma. Seseorang yang mendengarkan Dhamma akan bertambah pengetahuannya. Pengetahuan kebenaran dalam Dhamma dapat memotivasi seseorang untuk selalu berbuat kebajikan. Keyakinan kuat terhadap kebenaran Dhamma akan menyingkirkan keragu-raguan sehingga setiap tindakan terfilter dengan baik. Pemahaman dhamma yang benar membentuk pandangan hidup yang benar, dengan demikian seseorang akan mampu melihat segala sesuatu apa adanya. Jika pikiran telah terkontrol dengan baik, maka perbuatan tidak lagi menimbulkan penyesalan dan penderitaan bagi makhluk lain.

Puja bakti anjangsana termasuk pola interaksi sosial kerja sama (cooperation) di masyarakat. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Soekanto (2006: 66) timbulnya kerja sama apabila seseorang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Pada saat bersamaan memiliki pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut. Kesadaran adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerja sama yang berguna.

Di dalam Digha Nikāya, Mahāparinibbāna Sutta II: 16 Sang Buddha menyabdakan bahwa ada tujuh hal yang menjadikan kesejahteraan dan kemajuan. Tujuh hal tersebut yaitu, mengadakan pertemuan rutin, bertemu dalam damai dan berpisah dalam damai, melaksanakan tugas dengan damai, tidak menetapkan apa yang belum pernah ditetapkan tetapi meneruskan apa yang ditetapkan oleh tradisi dan tidak meniadakan apa yang telah ditetapkan, menghormati sesepuh yang layak didengarkan, tidak dengan paksa menculik istri-istri dan puteri-puteri untuk tinggal bersama, meghormat dan menyembah altar-altar di rumah maupun di tempat umum (Walshe, 2009: 200).

Puja bakti anjangsana termasuk kegiatan sosial keagamaan yang mengacu pada tujuh kriteria yang menjadikan kesejahteraan dan kemajuan. Sebagai cita-cita sosial, kesejahteraan dan kemajuan merupakan harapan bagi setiap individu di masyarakat. Kesejahteraan bukan dinilai dari dari segi finansial saja, melainkan saling menghormati, saling mengasihi, damai tanpa perselisiha, dan keharmonisan dalam menjalani kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara.

Kebahagiaan seseorang yang tinggal pada lingkungan yang tepat adalah suatu berkah. Di dalam Khuddaka Nikāya, Khuddakapātha, Maṅgala Sutta (Ñānamoli, 2006: 225) Sang Buddha menjelaskan tentang berkah yang utama, salah satunya adalah “Patirūpadesavāso ca” yang artinya hidup di tempat yang sesuai. Tempat yang sesuai adalah daerah di mana orang dapat hidup dengan aman, tenteram, menyenangkan, dan kontruksi perumahan yang baik. Selain itu, lingkungan juga teratur, rapi, bersih, dan terawat dengan baik. memiliki tetangga yang baik dan di daerah itu banyak orang yang suka berbuat kebajikan yang dipuji oleh orang bijaksana. Lingkungan bukan hanya menyangkut tempat tinggal, tetapi termasuk tempat kerja dan tempat memperoleh nafkah untuk menunjang kehidupan. Lingkungan yang harmonis di mana seseorang tidak mementingkan egoismenya. Saling menghargai, membantu, dan menghormati satu sama lain. Berkah bukanlah untuk diharap saja, melainkan perlu dikondisikan atau diciptakan. Puja bakti anjangsana adalah salah satu upaya dalam menciptakan berkah. Umat Buddha saling bertemu untuk membuat jasa melalui praktik puja bakti. Pertemuan yang rutin akan mengondisikan tali persaudaraan terjalin sehingga hubungan sosial semakin berkembang.

Manfaat Puja Bakti dalam Agama Buddha Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Vanya Dika

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih