16 December 2015

Pengertian Hubungan Sosial dalam Agama Buddha

Pengertian Hubungan Sosial dalam Agama Buddha. Agama Buddha mengajarkan tentang hubungan seseorang dengan masyarakat lain berdasarkan prinsip-prinsip moral. Tanggung jawab etika sosial menekankan pada pelaksanaan kewajiban sesuai dengan kedudukan sosialnya. Dengan demikian kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaan dalam masyarakat dapat tercapai. Seseorang yang menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai kedudukan maka layak dihargai kedudukkan sosialnya. Orangtua yang melaksanakan kewajiban membimbing, merawat, dan mendidik anaknya, maka patut dihormati sebagai orangtua. Dalam Aṅguttara Nikāya, Licchaviaparihaniyadhamma Sutta VII: 3 terdapat cara-cara yang dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan sebagai berikut:
“So long as the shall honour, respect, venerate, revere the Vajjian elders, shall hold they ought to be listened to, growth may be expected, not decline; So long as they shall not forcibly kidnap and make live with them women and girls of their own clan, growth may be expected, not decline (Hare, 2006: 10)”.
“Selama para sesepuh suku Vajji masih memuja, menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi mereka yang patut dihormati, serta mendengarkan nasihat mereka dengan baik, maka perkembangan dan kemajuanlah yang kelak akan diperoleh, bukan kemunduran. Selama  tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, tidak melakukan perbuatan yang asusila terhadap wanita, maka perkembangan dan kemajuanlah yang kelak akan dieroleh, bukan kemunduran.
Manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin akan hidup tanpa bantuan orang lain. Seseorang berinteraksi dan beraktivitas selalu berhubungan dengan yang lain. Namun ketika materi menjadi ukuran segalanya, maka interaksi dapat berubah menjadi egoisme yang menyebabkan lunturnya kesetiakawanan dalam persatuan. Sikap tidak peduli dengan orang lain karena dikuasai oleh keakuan, keserakahan, dan kesombongan. Sang Buddha mengajarkan tentang enam sifat yang patut diingat, yang menciptakan cinta kasih, rasa hormat, suka menolong, tanpa perselisihan, menciptakan harmoni dan kesatuan. Enam sifat tersebut terdapat dalam Majjhima Nikāya Mullapannasa Pāli, Kosambiya Sutta V:48 yaitu, cinta kasih secara jasmani, ucapan, mental, menggunakan benda-benda bersama, memiliki kesusilaan, memiliki pandangan mulia dan membebaskan (Ñānamoli dan Bodhi, 2006: 879). Jika semua sifat atau beberapa dari enam sifat baik yang diajarkan Buddha dipraktikkan, maka akan tercipta keharmonisan di dalam kehidupan.

Pengertian Hubungan Sosial dalam Agama Buddha
Hubungan Sosial dalam Agama Buddha
Etika dalam kehidupan sosial menyangkut penilaian tingkah laku manusia karena berkaitan dengan permasalahan baik dan buruk, adil dan tidak adil, kewajiban, hak, dan tanggung jawab untuk mencapai kesadaran Buddha, demikian juga kehidupan duniawi yang dijalankan dengan benar merupakan sarana untuk mencapai kesadaran Buddha. Segala cara yang baik untuk mencapai tujuan yang  baik dinamakan tindakan yang baik, karena kebaikan dapat diukur dalam tiga aspek yaitu, kebaikan dalam pikiran, ucapan, dan kebaikan dalam perbuatan. Segala tindakan yang bermanfaat untuk kesejahteraan orang lain dan kesejahteraan dirinya merupakan etika yang diharapkan dalam kehidupan sosial.

Dalam Riwayat Agung Para Buddha (Miṅgun, 2009: 1147) ketika Sang Buddha berdiam di antara Suku Sakya, terjadi perselisihan antara Suku Sakya dan Suku Koliya yang memperebutkan air Sungai Rohini. Sang Buddha datang melerai dan menasehati agar mereka hidup dalam kedamaian, tidak menuruti hati yang diliputi nafsu kebencian. Seseorang menderita karena sakit yang disebabkan oleh nafsu kejahatan. Hidup yang damai bebas dari nafsu keserakahan. Kedua suku berdamai setelah mendengar sabda-sabda Sang Budha kemudian membagi air Sungai Rohini dengan adil untuk mengairi ladang kedua belah pihak. Mereka lalu hidup berdampingan dengan damai, karena kebencian dan iri hati sudah lenyap dari hati mereka.

Kehidupan sosial yang harmonis agar dapat tumbuh dan berkembang, diperlukan prinsip dan konsep yang jelas. Prinsip adalah tekad yang kuat untuk melaksanakan suatu kebajikan. Konsep merupakan gambaran umum yang akan dilaksanakan. Di dalam Aṅguttara Nikāya, Saraniya Dhamma Sutta VI: 12 terdapat enam prinsip keramahtamahan untuk menciptakan hubungan sosial yang harmonis antarsesama. Enam prinsip keramahtamahan yang menciptakan cinta kasih dan rasa hormat, saling membantu, dan membawa pada kesatuan tanpa perselisihan. Enam prinsip yang menciptakan keharmonisan yaitu, melakukan perbuatan-perbuatan melalui fisik dilandasi dengan cinta kasih, melakukan ucapan penuh cinta kasih, cinta kasih melalui pikiran, berbagi hasil yang diperoleh, mengembangkan moralitas bersama-sama, dan memiliki pandangan luhur. Dengan menerapkan keenam prinsip ini, maka akan tercipta cinta kasih dan rasa hormat, tanpa perselisihan, keharmonisan dan menciptakan persatuan (Nyanaponika dan Bodhi, 2003: 379).

Kemajuan dalam kehidupan selalu menjadi harapan individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Upaya-upaya dilakukan dalam berbagai bidang guna memenuhi kebutuhan material maupun spiritual. Seseorang menciptakan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan usaha demi kemajuan di bidang ekonomi. Para pemuka agama melakukan pembinaan, pelatihan, dan penyuluhan demi kemajuan spiritual umatnya. Pemerintah mengembangkan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan sebagainya demi kesejahteraan rakyatnya. Untuk mencapai kemajuan tentunya tidak terlepas dari kerjasama yang sinergi antarindividu, kelompok,lembaga, maupun pihak-pihak lainnya.

Pengertian Hubungan Sosial dalam Agama Buddha Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Vanya Dika

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih