25 March 2016

Pembelajaran Tematik Sebagai Wujud Pembentukan Nilai Karakter Bangsa

Pembelajaran Tematik  Sebagai Wujud Pembentukan Nilai Karakter Bangsa. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan keanekaragaman adat, budaya mupun Bahasa. Keanekaragaman suatu bangsa yang membentuk budaya yang bermacam-macam pula. Kesatuan dan persatuan hendaknya selalu dipupuk agar bangsa ini dapat maju bersama menuju langkah bersama membangun negara yang makmur dan sentosa.

Pendidikan sebagai suatu pondasi guna memajukan bangsa ini agar berkembang mengikuti pergerakan menuju persangian dunia modern masa kini. Dalam membangun Indonesia yang cerdas melalui pendidikan pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan-kebijakan. Kebijakan tersebut mulai dari perbaikan infrastruktur yang mendukung pendidikan seperti pembangunan gedung-gedung sekolah, penjaminan mutu tenaga pendidik dan kependidikan, serta perubahan kurikulum. Hal tesebut tentunya sebagai wujud penunjang tercapainya tujuan pedidikan Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD dasar 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.
Pembelajaran Tematik  Sebagai Wujud Pembentukan Nilai Karakter Bangsa
Karakter Bangsa
Perkembangan pendidikan di Indonesia yang telah dirancang sedemikian rupa selain dapat membuat bangsa ini cerdas tentunya dapat membentuk karakter suatu bangsa yang baik pula. Sejarah pendidikan di Indonesia selalu memasukkan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam setiap agama. Hal ini tentunya dapat dilihat dari daftar mata pelajaran pendidikan agama dan budi pekerti. Ketika pengetahuan dibarengi dengan nilai-nilai spiritual suatu agama tentunya dapat membentuk masyarakat yang berpengetahuan serta berakhlak mulia.

Konsep pendidikan karakter (character education), Ahmad Amin dalam Suyadi mengemukakan bahwa “kehendak (niat) merupakan awal terjadinya akhlak (karakter) pada diri seorang jika kehendak itu diwujudkan dalam bentuk pembiasaan perilaku.” Hal tersebut tentunya melalui pembiasaan yang berawal dari pendidikan keluarga serta pendidikan formal disekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Peserta didik selain diajarkan pengetahaun (kognitif), dalam pendidikan formal diajarkan pula sikap (afektif), serta ketrampilan (skill) sebagai penunjang dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun demikian kenyataan yang terjadi dalam Indonesia secara factual, data realistic menunjukkan bahwa moralitas maupun karakter bangsa saat ini telah runtuh. Runtuhnya moralitas dan karakter bangsa tersebut telah mengundang berbagai musibah dan bencana di negeri ini. Musibah dan bencana tersebut meluas pada ranah sosial-keagamaan, hukum, maupun politik tidak hanya dalam dunia pendidikan.

Hal yang terjadi di dalam dunia pendidikan Indonesia seperti yang lansir dalam salah sutu pemberitaan online surat kabar http://nasional.republika.co.id “Sebuah video yang menayangkan sejumlah murid laki-laki memukuli dan menendang teman perempuannya beredar di jejaring sosial. Dalam video tersebut, seorang siswi di pojok ruangan dihujani pukulan dan tendangan oleh sekitar dua siswa dan satu siswi. Kepala Bidang TK SD Dinas Pendidikan Pemuda Olah Raga di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, Erdi mengaku terkecoh dengan kejadian tersebut. Karena menurutnya, ia baru mengetahui hal itu pada Senin (6/10) lalu. lalu. Keesokan harinya, Selasa (7/10), pihaknya mendatangi sekolah SD di Bukit Tinggi tersebut untuk mendalami kasusnya. Erdi mengatakan langsung mengumpulkan siswa kelas V SD dan pihak sekolah.

Fakta di atas menunjukan bawha potret pendidikan di indonesia dapat dikatakan masih buruk dan masih perlu adanya perbaikan, maupun penyempurnaan system pendidikan itu sendiri. Suatu perubahan hendaklah diperhatikan dan lebih menyorot untuk memupuk karakter yang baik. Bila karakter bangsa ini dapat terbentuk mulai dari generasi penerus muda, maka diharapkan kedepannya dapat merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik. Adapun model pembelajaran yang dapat kita kembangkan dalm tematik ada 3 yakni:

1. Model hubungan/terkait (connected model)

Pada model pembelajaran ini ciri utamanya adalah adanya upaya untuk menghubungkan beberapa materi (bahan kajian) ke dalam satu disiplin ilmu. Sebuah model penyajian yang menghubungkan, materi satu dengan materi yang lain. Menghubungkan tugas/keterampilan yang satu dengan tugas/ketrampilan yang lain. Keunggulan model ini, peserta didik memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang sebuah konsep, sehingga transfer pengetahuan lebih mudah dilakukan karena konsep pokok dikembangkan secara terus menerus.

2. Model jaring laba-laba (webbed model)

Model pembelajaran ini diawali dengan pemilihan tema. Setelah tema ditentukan dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan keterkaitannya antar mata pelajaran. Aktivitas belajar siswa direncanakan berdasarkan sub-sub tema yang sudah ditentukan. Keuntukan model pembelajaran ini bagi peserta didik adalah diperolehnya pandangan secara utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda. 

3. Model terpadu (integrated model)

Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran yang dipadukan. Beberapa mata pelajaran dicari konsep, sikap, dan ketrampilan yang tumpang tindih dipadukan menjadi satu. Kegiatan guru pertama menyeleksi konsep, nilai-nilai dan ketrampilan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dari berbagai mata pelajaran. Keuntungan medel pembelajaran ini bagi peserta didik adalah lebih mudah mengaitkan materi pembelajaran dari berbagai mata pelajaran. Model inilah yang dikembangkan sebagai pembelajaran tematik terpadu di kurikulum 2013.

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini digagas tokoh psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pembelajaran tematik meliputi berbagai mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dengan tema sebagai pemersatunya. Untuk menyatukan berbagai kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran, perlu penelaahan atau kajian yang mendalam dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Pembelajaran tematik disajikan secara fleksibel, tidak dipaksakan, melainkan mengalir begitu saja keterpaduannya, saling melengkapi, saling mengkait, dan tidak terpisahkan. Pelaksanaan pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Trianto (2010: 88-89) mengemukakan bahwa pembelajaran tematik dalam kenyataannya memiliki beberapa kelebihan seperti pembelajaran terpadu, sebagai berikut:
  1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.
  2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.
  4. Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.
  5. Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai lingkungan anak.
  6. Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.  Keterampilan sosial ini antara lain adalah : kerjasama, komunikasi, dan mau mendengarkan pendapat orang lain.
Dengan melihat kelebihan pembelajaran tematik di atas. Pembelajaran tematik melalui pendekatan saintifik sebagai wujud dalam pembentukan nilai karakter suatu bangsa diharapkan efektif dilaksanakan secara sempurna dan menyeluruh. Suatu pembelajaran dapat diakatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama keefektifan pengajaran, yaitu:
  1. Prestasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM;
  2. Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi diantara siswa;
  3. Ketetapan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan; dan
  4. Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan struktur kelas yang mengandung butir b tanpa mengabaikan butir d (Soesmosasmito dalam Trianto, 2009: 20).
Adapun langkah-langkah pembelajaran tematik, yaitu:

1. Invitasi/apersepsi

Pada tahap ini guru melakukan brainstrorming dan menghasilkan kemungkinan topik untuk penyelidikan. Topik dapat bersifat umum atau khusus, tetapi harus mampu menimbulkan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan. Menurut Aisyah (2007), apersepsi dalam kehidupan dapat dilakukan, yaitu dengan mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yang akan dibahas. Dengan demikian, tampak adanya kesinambungan pengetahuan karena diawali dari hal-hal yang telah diketahui siswa sebelumnya dan ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). 

2. Eksplorasi

Pada tahap ini siswa dibawah bimbingan guru mengidentifikasi topic penyelidikan. Pengumpulan data dan informasi selengkap-lengkapnya tentang materi dapat dilakukan dengan bertanya (wawancara), mengamati, membaca, mengidentifikasi, serta menganalisis (menalar) dari sumber-sumber langsung (tokoh, obyek yang diamati) atau sumber tidak langsung misalnya buku, Koran, atau sumber-sumber informasi publik yang lain. 

3. Mengusulkan penjelasan/solusi

Pada tahap ini seluruh informasi, temuan, sintesa yang telah dikembangkan dalam proses penyelidikan dibahas dengan teman secara berpasangan ataupun dalam kelompok kecil. Saling mengkomunikasikan hasil temuan, menguji hipotesis kemudian melaporkan atau menyajikannya di depan kelas untuk menggambarkan temuan setelah pembahasan. Menurut Aisyah (2007) tahap ini adalah tahap proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan ketrampilan proses, life skill, demonstrasi, eksperimen, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. 

4. Mengambil tindakan

Berdasarkan temuan yang dilaporkan siswa menindaklanjuti dengan menyusun simpulan serta penerapan dari emuan-temuannya. Untuk mengungkap pengetahuan dan penguasaan siswa terhadap materi dapat dilakukan melalui evaluasi.

Implementasi metode pembelajaran tematik terpadu sebagai wujud upaya membangun karakter bangsa secara lebih lanjut di atas melalui tahapan dalam proses pembelajaran telah dijelasakan lebih lanjut. Melalui tahapan-tahapan di atas tentunya telah mengarah untuk pembentukan karakter yang telah dirumuskan dalam Kementrian Pendidikan Nasional. Adapun karakter yang telah dicanangkan kemendiknas dalam  upaya membangun karakter bangsa melalui pendidikan, meliputi: Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Suyadi, 2013: 8-9).

Melalui metode pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013 mewujudkan  karakter anak bangsa sesuai dengan rancangan Kemendiknas. Dengan generasi muda yang berkarakter akan mewujudkan Indonesia emas yang makmur, sentosa, dan sejahtera secara menyeluruh. Selain melalui pendidikan tentunya dengan dukungan masyarakat secara bersama-sama.

Referensi:

Handayani, Sri. 2013. Bahan Ajar Pengelolaan Pembelajaran Tematik Terpadu.
http://nasional.republika.co.id
Sutirjo dan Sri Istuti Mamik. (2005). Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang: Bayumedia Publishing.
Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Trianto. 2010. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik.  Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya.

Pembelajaran Tematik Sebagai Wujud Pembentukan Nilai Karakter Bangsa Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Arya Cakka

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih