23 January 2017

Keluarga Bahagia (Hita Sukhaya) dalam Agama Buddha

Keluarga Bahagia (Hita Sukhaya) dalam Agama Buddha. Keluarga bahagia atau yang lebih dikenal luas dengan sebutan harmonis (hitasukaya) merupakan dambaan bagi setiap keluarga. Dengan membina keluarga yang berlandaskan dengan dhamma didalam praktik kehidupan sehari-hari. Tentunya suatu keluarga harmonis akan tercipta berawal dengan menerapkan kedisiplinan, dan mempraktikkan sila itu sendiri.

Banyak orang mempertanyakan kedisiplinan tidak mendapatkan manfaat. Tidak jarang orang berkata bahwa kedisiplinan yang dilaksanakan hanyalah membuat batasan dalam bertindak yang membuat orang tersebut terkekang. Apakah tekadnya kurang atau belum ada kesungguhan, dan kedisiplinan yang telah dilakukan tidak tepat atau sering kali menjadi putus asa. Hal tersebut menimbulkan kebimbangan, dan berkurangnya konsistensi terhadap penerapannya. Apa yang menjadi masalah kedisipinan itu sendiri?
Baca juga: Kumpulan Teori dan Artikel Agama Buddha
Keluarga Bahagia (Hita Sukhaya) dalam Agama Buddha
Keluarga Bahagia
Dalam agama Buddha kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari merupakan vinaya. Membahas tentang vinaya tentunya tidak lepas dari pelaksanaan sila. Sila sendiri merupakan etika atau kemoralan. Dalam masyarakat vinaya lebih dikenal sebagai peraturan kehidupan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni, akan tetapi sesungguhnya vinaya ada dua macam, yaitu; agariya vinaya merupakan kedisiplinan bagi perumah tangga (gharavasa), dan anagariya vinaya merupakan peraturan kedisiplinan bagi seorang bhikkhu dan bhikkhuni (pabbajita). Dari hal diatas dapat diambil suatu makna bahwa sila dan vinaya memegang peranan penting untuk menciptakan kedisiplinan kehidupan yang harmonis yang sejalan dengan dhamma.

Hal dasar yang perlu diperhatikan bagi kehidupan perumah tangga merupakan pancasila buddhis. Pacasila buddhis adalah latihan moral yang tahap awal bagi seseorang memasuki kehidupan beragama didalam  agama Buddha. Dalam pancasila buddhis terdapat lima latihan dasar yang sangat mendasar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu; Pertama, melatih diri menghindari pembunuhan makhuk hidup. Kedua, melatih diri menghindari pencurian. Ketiga, melatih diri menghindari perbuatan asusila. Keempat, melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar. Kelima, melatih diri menghindari minum-minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesaadaran. Lima latihan dasar tersebut merupakan peraturan pelatihan (sikkhapada) yang harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Arti penting dari pancasila buddhis tersebut bahwa membina keluarga hendaknya berawal dengan melaksanakan sila dengan baik.

Dalam tradisi agama Buddha ketika hari uposattha dimana hari khusus yang dipandang sebagai hari suci umat Buddha melaksanakan delapan sila (atthangika uposatha). Hari uposattha merupakan hari ketika bulan gelap dan bulang terang dalam penanggalan lunar. Dalam satu bulan terdapat empat hari uposatha yaitu; hari-hari tanggal 1, 8, 15, dan 23. Dimana setelah sila kelima ada tiga sila lagi yaitu; keenam melatih diri menghindari makan setelah tengah hari. Ketujuh, melatih diri menghindri menghibur diri dengan menari, bernyanyi, bermain musik, dan melihat tontonan. Kedelapan, melatih diri menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan mewah. Hari uposatha merupakan hari membahas dhamma, dan melatih meditasi didalam suatu vihara. Selain pelaksaksanaan sila di atas, terdapat lima macam praktik yang berguna bagi kemajuan batin di dalam perumah tangga (anupubbikatha), yaitu;

1. Dana Katha

Dana katha merupakan berdana, kemurahan hati. Artinya sebuah keluarga harus menanamkan sifat kemurahan hati. Tujuan dari berdana merupakan suatu hal untuk mengurangi keserakahan dalam diri.

2. Sila Katha

Sila katha merupakan tata susila, kemoralan.

3. Sagga Katha

Sagga katha merupakan kebahagian di alam-alam surga/dewa.

4. Kamadinawa Katha

Kamadinawa katha merupakan bahaya di dalam kenikmatan kesenangan indra. Artinya sebuah keluarga baik dari pihak suami maupun istri hendaknya mengendalikan indra-indra.

5. Nekkhammanisamsa Katha

Nekkhammanisamsa katha merupakan faedah peninggalan terhadap kesenangan indra. Dengan mengendalikan indra sebuah keluarga akan tercipta nyaman, tanpa adanya rasa saling curiga satu sama lainnya.

Dalam sebuah buku Ikhtisar Ajaran Buddha yang didalamnya berisi pokok dari Vyagghapajja Sutta, terdapat empat keadaan yang akan membawa kekayaan dan kebahagiaan bagi perumah tangga dalam kehidupan sekarang, yaitu;

1. Utthana-Sampada

Utthana-sampada merupakan memiliki ketekunan. Dalam hal ini, apapun yang dilakukan oleh perumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sebagai petani, pedagang, peternak, atau keahlian lainnya harus ahli dan tidak malas. Dilengkapi dengan ketrampilan mengenahi cara yang benar, mampu melaksanakan, dan memberikan tugas.

2. Arakkkha Sampada

Arakkkha sampada merupakan memiliki keseksamaan. Dalam hal ini, kekayaan apapun yang dimiliki suami istri yang dimiliki berkat bekerja keras, dengan jerih payah sendiri, dengan cucuran keringat, yang diperoleh dengan cara yang baik, ia berhemat dengan melindungi dan menjaga kekayaannya sehingga raja-raja tidak menyitanya, pencuri-pencuri tidak mencurinya, tidak terbakar dan dihanyutkan oleh air atau tidak juga diambil oleh pewaris-pewaris yang bersikap tidak baik.

3. Kalyana-Mitta

Kalyana-mitta merupakan memiliki sahabat yang baik. Dalam hal ini di desa maupun di kota suami istri tinggal, dia bergaul, bercakap-cakap, berbincang-bincang dengan tetangga atau anak baik yang muda dann sangat terpelajar maupun yang tua dan sangat terpelajar, memiliki keyakinan (sadha), kesusilaan (sila), kedermawanan (caga), dan kebijaksanaan (panna).

4. Sama-jivakata

Sama-jivakata merupakan selaras serta seimbang. Dalam hal ini suami istri mengetahui penghasilan dan pengeluarannya akan mengatur hidupnya seimbang, tidak boros maupun tidak pelit. Dengan pengetahuan itu ia akan membuat pemasukannya lebih besar dibandingkan pengeluarannya.

Vyagghapajja Sutta merupakan salah satu suta yang berkaaitan dengan kehidupan keluarga harmonis di dalam agama Buddha. Dari pelaksanaan  empat hal di atas akan membawa 4 macam kebahagiaan bagi umat Buddha yang berkeluarga, yaitu:
  1. Atthi Sukha: kebahagiaan karena memiliki kekayaan.
  2. Bhoga Sukha: kebahagiaan karena mempergunakan kekayaan.
  3. Anana Sukha: kebahagiaan karena tidak memiliki hutang.
  4. Anavajja Sukha: kebahagiaan karena tidak melakukan perbuatan tercela
Berdasarkan pembahasan tersebut tentunya pelaksanaan sila dalam kehidupan sehari-hari menjadi dasar sebuah keluarga harmonis. Melaksanakan sila dengan baik didalam kehidupan keluarga membawa manfaat yang sangat besar. Dalam Maha Parinibba Sutta, Sang Buddha bersabda kepada perumah tangga tentang manfaat melaksanakan sila, sebagai berikut;
  1. Sila menyebabkan seseorang memiliki banyak harta kekayaan.
  2. Nama dan kemashyurannya akan tersebar luas.
  3. Menghadiri setiap pertemuan tanpa ketakutan atau keragu-raguan, karena menyadari bahwa tidak akan dicela atau didakwa orang banyak.
  4. Sewaktu akan meninggal dunia hatinya tentram.
  5. Akan terlahir di alam surga.
Dengan mengetahui manfaat dari menjalan sila dengan baik tentunya setiap orang didalam keluarga lebih bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Culla-Vedalla-Sutta (Majjhima Nikaya) jalan mulia beruas delapan (Ariya Atthangika Magga) terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu; Sila, Samadhi, dan Panna. Sila merupakan hal pertama yang harus dilaksanakan baik dalam kehidupan rumah tangga maupun kehidupan seorang bhikkhu. Dengan mengetahui bahwa keinginan seperti api yang berkobar. Setiap kejahatan yang diperbuat akan mendorong untuk mengulanginya lagi, dan membuat keinginan semakin kuat. Oleh kerena itu sebagai langkah pertama, lebih dahulu harus menghindarkan dari perbuatan yang tidak baik dan merugikan. Sang Buddha menamakan hal itu “sila”. Dengan melaksanakan sila, dan tidak melakukan kejahatan apapun juga, maka api keinginan itu akan memperoleh umpan baru untuk tetap berkobar. Untuk melenyapkan penderitaan, keinginan harus diatasi dengan sempurna, dan selama-lamanya. Jangan menambahkan kuatnya keinginan dengan berbuat kejahatan, itulah sila.

Dari pelaksanaan sila dengan baik akan menunjang meditasi, meditasi disini untuk memperoleh ketenangan pikiran agar segala sesuatu dapat dijalankan dengan baik didalam keluarga. Dari pelaksanaan meditasi dengan baik akan menunjang kebijaksanaan, didalam keluarga dapat mengambil kebijakan dengan baik. Bagaimana seorang suami dapat menjadi teladan keluarga. Seorang istri dapat melaksanakan kewajiban sebagai istri dengan baik yang mampu membimbing anaknya. Seorang anak pun berbakti terhadap kedua orang tuanya.

Vinaya bukanlah dikhususkan hanya untuk kehidupan seorang bhikkhu dan bhikkhuni. Akan tetapi menjalankan sila merupakan beentuk dari kedisiplinan dalam kehidupan umat Bhuddha. Telah disampaikan dalam berbagai khotbah-khotbah Sang Buddha dalam membina kehidupan perumah tangaa, dan manfaat dari menjalankan sila telah diuraikan dengan jelas.

Demikian sebuah keluarga yang harmonis (hitasukaya) akan tercipta dengan menanamkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin dalam mempraktikan sila karena segala aspek kehidupan mengandung isi tentang sila. Setelah memahami manfaat dari menjalankan sila tentunya keluarga harmonis akaan tercipta.

Referensi:
Nanamoli, dan Boddhi. Majjhima Nikaya. Terjemahan oleh Wena Cintiawati, dan Lanny Anggawati. 2006: Vihara Boddhivamsa Wisma Dhammaguna.
Hansen, Sasanasena Seng. 2008. Ikhtisar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Vidyasena Production Vihara Vidyaloka.
Kaharudin. 2004. Kamus Umum Buddha Dharma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Centre.
Rashid, Teja S.M. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta. Buddhis BODHI.
Walshe, Maurice. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha Digha Nikaya. Terjemahan oleh Team Giri Mangala Publication, dan Team DhammaCitta Press. 2009: DhammaCitta Press.

Keluarga Bahagia (Hita Sukhaya) dalam Agama Buddha Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Patmasari Kumala

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih