24 January 2017

Konsep Kepemimpinan dalam Agama Buddha (Analisa Cakkavati-Sihanada Sutta)

Konsep Kepemimpinan dalam Agama Buddha. Di dalam pandangan buddhisme seorang pemimpin hendaknya memperhatikan Dasa Raja Dharma. Dimana seorang pemimpin yang berjiwa Buddhis harus mengembangkan Sila, Samadhi, dan Panna (Ariya Atthangika Magga).

A. Kepemimpinan dalam Cakkavati-Sihanada Sutta

Dalam Cakkavati-Sihanada Sutta telah dijelaskan bahwa seorang pemimipin raja dunia (Cakkavati) adalah seorang pemimpin yang menjalankan tugas kepemimpinannya sesuai dengan ajaran kebenaran (Dhamma). Hal tersebut merupakan teladan yang baik dalam memberikan pengaruh terhadap masyarakat. Seorang pemimpin yang baik yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin rakyaknya. Hal tersebut sesuai dengan ajaran Sang Buddha, seperti berikut:

Atta have jitam seyoo
Ya cayam itara paja
Attadantassa posassa
Niccam sannatacarino

Artinya:
Lebih baik mengalahkan diri sendiri daripada menaklukkan makhluk lain; karena siapapun dapat mengendalikan pikiran dengan baik akan dapat mengendalikan perbuatannya dengan baik pula.” (Dhammapada VIII. 104).

Dari ulasan di atas bahwa hal utama yang harus dikendalikan adalah mengendalikan diri sendiri. Mengendalikan segala gerak-gerik pikiran, ucapan, dan perbuatan. Berawal dari dalam diri melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, agar segala tindakannya dapat dijadikan teladan bagi para pengikutnya.

Dalam Cakkavati Sihanada Sutta terdapat seorang pemimpin yang adil yang memimpin pengikutnya hingga beratus-ratus tahun yang bernama Raja Dalhaneni. Seorang raja pemutar-roda yang telah mengukuhkan keamanan diwilayah dan memiliki tujuh pusaka, yaitu: pusaka-roda, pusaka-gajah, pusaka-kuda, pusaka-permata, pusaka-perempuan, pusaka-rumah tangga, dan yang ke tujuh pusaka-penasihat. Seorang pemimpin yang mampu memimpin dunia dengan berlandaskan ajaran kebenaran (Dhamma) sebagai panji-panji dalam bertindak. Memutar roda kebenaran dengan menjalankan sila. Ia memiliki lebih dari seribu putra yang semuanya adalah pahlawan-pahlawan, bersosok kuat, penakluk bala tentara musuh. Ia berdiam setelah menaklukkan tanah yang dikelilingi oleh lautan tanpa mengunakan tongkat ataupun pedang, melainkan dengan hukum. Menaklukkan musuh dengan memberikan teladan yang baik. Selain menjalankan kemoralan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tanggal lima belas dengan mencuci kepalanya dan naik ke teras puncak istananya untuk menjalankan hari uposatha. Dimana saat-saat hari uposatha merupakan hari menjalankan kehidupan dengan melaksanakan tujuh latihan kemoralan (athasila).

Ketika pemimpin tidak dapat memimpin dengan bajik dan adil, maka konflik akan muncul dan semakin berkembang dalam tatanan masyarakat. Terciptanya suatu negara yang tenang, dan tidak was-was merupakan harapan bagi setiap insan manusia. Selain itu untuk mewujudkan suatu negara menjadi negara yang berkembang, dan lebih maju seperti negara-negara lainnya. Dengan adanya perhatian dan dukungan kepada rakyat maka kedamaian akan muncul. Dengan adanya kedamaaian, maka masyarakat bisa bekerja setiap hari, maka negara menjadi maju dan berkembang meninggalkan predikat sebagai negara yang miskin.

“Seorang penguwasa dunia, raja yang adil dan luhur- yang tergantung pada kebenaran (Dhamma), yang menghargai, menjunjung tinggi dan menghormatinya, dengan hukum kebenaran sebagai panji, bendera dan kekuasaannya-” (Angutara Nikaya III. 14). Dalam hal ini seorang penguwasa dunia, raja adil dan luhur yang bergantung pada hukum kebenaran sebagai panji, bendera dan kekuasaannya. Dialah yang memberikan perlindungan, naungan, keamanan, bagi ksatria yang melayaninya; bagi bala tentaranya, bagi para brahmana dan perumah tangga, bagi penghuni kota dan desa, bagi petapa dan brahmana, bagi binatang dan burung.
Baca juga: Kumpulan Teori dan Artikel Agama Buddha 
Baca juga: Kumpulan Teori dan Artikel Kepemimpinan
Konsep Kepemimpinan dalam Agama Buddha (Analisa Cakkavati-Sihanada Sutta)
Kepemimpinan dalam Agama Buddha

B. Ciri-ciri Kepemimpinan Cakkavati-Sihanada Sutta

Seorang pemimpin yang menjalankan tugas kepemimpinannya harus mempunyai kemauan, kecakapan, sikap, kesehatan, kecenderungan, kesabaran, dan tetap berusaha untuk merasa bahwa tugas yang diemban adalah suatu tugas yang mulia yang harus dilaksanakan dengan sukarela. Selain itu juga, bahwa kemerosotan moral dan kejahatan dapat dicegah seperti pencurian, pemalsuan, kekerasan, kebencian, kekejaman, dapat timbul dari kemiskinan. Hal-hal yang menyimpang ini terjadi karena seorang pemimpin dan aparat pemerintah tidak menekan kejahatan melalui hukuman, sehingga kejahatan semakin meluas.

Demikianlah  karena dana-dana tidak diberikan kepada orang yang miskin maka kemelaratan meluas. Karena kemelaratan bertambah maka pencuri bertambah. Karena pencuri bertambah maka kekerasan berkembang dengan cepat. Disebabkan adanya kekerasan yang meluas maka pembunuhan jadi biasa.” Hal ini dapat dipahami bahwa akibat dari dana yang tidak diberikan kepada masyarakat akan bertambah kemiskinan dan bertambahnya tindak kejahatan, seperti pencurian, kekerasan, dan pembunuhan.

Seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan dan kekuasaan hendaknya dapat mengatasi kemiskinan dan juga kejahatan yang ada dalam kepemimpiinannya. Dengan memberikan dana kepada masyarakat yang kurang mampu. Kemudian melakukan pengawasan dengan ketat, menegakkan hukum kepada yang bersalah dan membuat peraturan-peraturan yang berlaku dan wajib dipatuhi oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat bebas dari kejahatan.

Seorang pemimpin yang memiliki keyakinan dan moral yang tinggi hendaknya dapat mengajak masyarakat yang moralnya rendah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai manusia yang mempunyai keyakinan dengan baik. Dengan benar-benar menjalankan kewajibannya dan melaksanakan kebajikan-kebajikan, maka rendahnya moralitas masyarakat akan berkurang sehingga menciptakan mayarakat yang bermoral. Hal ini sesuai dengan Sabda Sang Buddha seperti berikut:
“Para bhikkhu, pada orang-orang ini akan muncul keinginan-keinginan sebagai berikut: karena kita takut melakukan cara-cara jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara. Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang, kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan. Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka laksanakan  terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka akibatnya batas usia kehidupan dan kecantiakan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya 10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 20 tahun.” (Digha Nikaya III. 26).

Dari  sabda Sang Buddha di atas  jelas bahwa dengan melaksanakan kebajikan  maka dapat membuat usia manusia bertambah. Dengan demikian dalam mengatasi kemerosotan yang ada dalam suatu pemerintahan atau kepemimpinan dapat dilakukan dengan melaksanakan kebajikan-kebajikan, seperti berdana. Berdana merupakan perbuatan yang dapat dilakukan dengan mudah untuk mengawali kebajikan.

Selain itu, di dalam buddhisme upaya dalam mengatasi kemerosotan moral dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dari hal ini pentingnya menanamkan hiri dan otappa pada diri sendiri. Hiri merupakan perasaan malu dalam melakukan tindakan kejahatan. Otappa merupakan perasaan takut akan akibat dari perbuatan jahatnya. Pentingnya menanamkan dalam setiap diri manusia dengan hiri dan otappa maka dunia akan terlindungi. Sehingga terciptanya kedamaian, kesejahteraan dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara.

Selain ciri-ciri di atas, dalam  Cakkavatti Sihanada Sutta juga dijelaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat hal yaitu: kecantikan atau ketampanan, kebahagiaan, kekayaan, dan kekuatan.

Kecantikan dan ketampanan. Kecantikan atau ketampanan adalah bagaimana seseorang itu dapat melaksanakan peraturan-peraturan moral, mengendalikan dirinya dengan patimokkha, sempurna dalam sikap dan tingkah laku, dapat melihat bahaya sekalipun itu hanya merupakan kesalahan kecil dan dapat menghindarkan diri dari kesalahan itu serta dapat melatih sila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian seseorang akan mendapatkan aura kecantikan yang sesungguhnya. Kecantikan itu sendiri bukanlah kecantikan yang muncul dari luar, akan tetapi hal yang muncul dari dalam diri.

Kebahagiaan. Kebahagian adalah bagaimana seseorang dapat menjauhkan diri dari pemuasan nafsu-nafsu indera, bebas dari kemauan jahat, mencapai dan tetap berada dalam jhana I dengan memiliki usaha untuk menangkap obyek (vitakka), obyek dikuasai (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukkha), dan ketenangan batin (viveka). Dengan melenyapkan vitakka dan vicara seseorang dapat mencapai tetap berada dalam jhana II dengan diliputi kegiuran (piti), kebahagiaan (sukkha) dan ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan piti seseorang  dapat mencapai dan tetap berada dalam jhana III dengan diliputi kebahagiaan (sukkha) dan ketenangan  (viveka) batin. Dengan melenyapkan sukkha seseorang dapat mencapai dan tetap berada dalam jhana IV dengan pikiran terpusat dan penuh ketenagan bati. Deengan berada di jhana I, Jhana II, Jhana III, dan jhana IV  maka seseorang akan hidup bahagia karena sudah terbebas dari keduniawian.

Kekayaan. Kekayaan adalah bagaiman seseorang memelihara batinnya dengan diliputi oleh cinta kasih (metta), kasih sayang (karuna), simpati (mudita), keseimbangan batin (upekkha) yang dipancarkan ke satu arah, ke dua arah, ketiga arah, ke empat arah dari dunia. Dengan demikian seluruh dunia dr atas, bawah dan sekeliling dan diseluruh penjuru dunia dipancarkan cinta kasih dan kasih sayang tanpa batas, penuh rasa simpati dan keseimbangan batin yang tulus, yang muia, tak terukur, yang bebas dari kebencian dan iri hati, maka seseorang akan mendapatkan kekayaan yang sesungguhnya.

Kekuatan. Kekuatan adalah bagaimana cara seseorang dalam melenyapkan kekotoran bati (asava) sehingga pada kehidupan sekarang ini dapat dicapai dan tetap berada dalam keadaan batin yang suci dan kebijaksanaan yang suci. Tidak ada kekuatan lain yang sulit sekali ditaklukkan selain kekuatan mara. Tetapi perbuatan baik (kusala) yang dikembangkan dalam diri manusia akan merupakan cara yang paling baik untuk menaklukkan mara dalam kehidupan manusia. (Digha Nikaya III. 26).

“Selo yatha ekaghano
Vatena na samirati
Evam nindapasamsasu
Na saminjanti pandita

Artinya: Seperti batu karang yang tidak tergoyahkan oleh tiupan angin, demikian pula para bijaksana tidak terpengaruh oleh pujian dan celaan.” (Dhammapada VI. 81).

Dalam kondisi ini, seorang pemimpin hendaknya bisa mengenal diri dan tidak akan tergoyahkan dengan kesenangan indera, pujian maupun celaan. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memiliki keseimbangan kondisi batin, yang tidak akan senang dikala dipuji dan sedih disaat dicela, dihina maupun difitnah. Seperti halnya dengan kata pepatah “semakin tinggi suatu bangunan  maka semakin kuat pula angin menerjang.” Hal itulah perumpamaan sebagai pemimpin, hendaknya bijaksana dalam segala kondisi dan kedaan yang akan diterima dari masyarakat semuanya.

C. Tugas seorang Pemimpin dalam Cakkavati-Sihanada Sutta

Engkau bergantung pada Dhamma, menghormati-Nya, menghargai-Nya, menyayangi-Nya, menyembah-Nya, dan memuja-Nya, menjadikan dhamma sebagai lencana dan spandukmu, mengakui dhamma sebagai gurumu, engkau harus menjaga, menangkis dan melindungi sesuai dhamma, rumah tanggamu, pasukanmu, penduduk desa dan kota, para petapa dan brahmana, binatang-binatang liar dan burung-burung. Jangan biarkan kejahatan menyerang kerajaanmu dan bagi mereka yang membutuhkan, berikan barang-barang kebutuhan mereka. Dan petapa dan brahmana manapun dalam kerajaanmu yang meninggalkan kehidupan indriawi, dan menjalani praktik kesabaran dan kelembutan, masing masing menjinakkan diri mereka, masing-masing menenangkan diri mereka, daan masing-masing berusaha untuk mengakiri keserakahan, dari waktu ke waktu engkau harus mengunjungi dan berkonsultasi dengan mereka sehubungan dengan apa yang baik dengan apa yang tidak baik, apa yang patut dicela dan apa yang tanpa cela, apa yang harus diikuti dan apa yang tidak boleh diikuti, dan perbuatan apa yang dalam jangka panjang akan mengakibatkan kemalangan dan penderitaan, dan apa yang menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Setelah mendengar mereka engkau harus menghindari kejahatan dan melakukan kebaikan.

D. Kewajiban seorang Pemimpin Cakkavati-Sihanada Sutta

Kewajiban seorang pemimpin dalam Cakkavatti Sihanada Sutta adalah melindungi dan mengayomi keluarganya, para bangsawan, para menteri, tentara, para perumah tangga, para penduduk, desa dan kota, para rohaniawan, para samana dan petapa, serta binatang-bintang. Seorang pemimpin harus memperhatikan apa saja yang dibutuhkan oleh rakyatnya.

Selain itu juga, seorang pemimpin harus menegakkan kebeenaran. Seorang pemimpin tidak boleh membiarkan kejahatan terjadi dalam pemerintahannya walaupun kecil. Seorang pemimin tidak meremehkan perbuatan baik walaupun kecil. Seorang pemimpin terus mendorong seluruh bangsanya untuk berada dalam garis kebenaran dan menghindari berbuat jahat. Seperti dalam sabda Sang Buddhaseperti berikut:

“....bila seorang pemimpin berada dalam garis kebenaran, maka mereka akan selalu datang menemuinya untuk memberitahukan apa saja yang baik dan apa yang buruk, perbuatan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan, perbuatan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat di masa yang akan datang. Seorang pemimpin harus mendengarkan dan melaksanakan apa yang mereka katakan” (Digha Nikaya III. 26).

Jadi seorang pemimpin yang bijaksana akan selalu ditemui oleh rakyatnya untuk memberitahukan apa saja yang terbaik dan yang buruk, yang pantas dan yang tidak pantas dilakukan dan perbuatan apa saja yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat demi kesejahteraan masyarakat.

Selain ulasan di atas Kaharudin (2004: 282-283), dalam buddhisme terdapat sepuluh macam dhamma kepunyaan raja (Dasa Raja-Dhamma), yaitu:
  1. Berdana (Dana).
  2. Kemoralan (Sila).
  3. Berkorban (Pariccaga).
  4. Ketulusan hati (Ajjava.).
  5. Ramah tamah (Maddava).
  6. Kesederhanaan (Tapa).
  7. Tidak marah (Akkodha).
  8. Tidak melakukan kekerasan (Avihimsa).
  9. Kesabaran (Khanti).
  10. Tidak bertentangan dengan kebenaran (Avirodhana).
Dari sepuluh hal di atas bahwa hal tersebut sangatlah penting untuk laksanakan seorang pemimpin. Dengan menjalankan sepuluh perbuatan baik akan terciptanya sesuatu kemakmuran bagi semua kalangan masyarakat. Seorang pemimpin yang melaksanakan tugas kepemimipinannya dengan berlandaskan kebenaran dengan melaksanakan sepuluh macam perbuatan baik akan membawa kebahagiaan dan ketentraman bagi semua.

Referensi:
(Tanpa Pengarang). Dhammapada. Terjemahan oleh Surya Widya dan Sasanadhaja: 2002. Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama.
Anguttara Nikaya: Numerical Discourses of The Buddha. 2003. Terjemahan oleh Wena Cintiawati dan Lanny Anggawati: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Digha Nikaya: The long Discourses of The Buddha A Trsanslation. 2009. Terjemahan oleh Team Giri Mangala Publication dan Team DhammaCitta Press: DhammaCitta Press.
Kaharudin. 2004. Kamus Umum Buddha Dhamma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Centre.
Khaerudin. 2011. “Kredibilitas Partai Demokrat Hancur di Mata Publik”: (Online), (http://nasional.kompas.com/read/2011/10/28/22171151/Kredibilitas.Partai.Demokrat.Hancur.di.Mata.Publik, 24 April 2013).
Kompas, 12 April. 2013. “Kekerasan Wali Kota Magelang”, hlm. 23.

Konsep Kepemimpinan dalam Agama Buddha (Analisa Cakkavati-Sihanada Sutta) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Patmasari Kumala

0 komentar:

Post a Comment

Dengan hormat,
Mohon berkomentar sesuai dengan topik artikel
Komentar berbau iseng semata tidak akan di publikasikan
Terima kasih